April 2, 2018

KH. MOH. SAID KETAPANG, KYAI YANG MAHIR BERBAHASA ASING

KH. Moh. Said adalah salah satu ulama pendiri NU. Pernah diberi tugas oleh Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk mengibarkan bendera NU ke penjuru dunia karena beliau termasuk orang yang mahir berbahasa Inggris, Russia, Jerman dan Belanda. Bersama Syaikh Ghanaim dan KH. A. Wahab Hasbullah, beliau berkelana ke luar negeri mengabarkan NU ke dunia internasional. Beliau mengantarkan surat berdirinya NU ke penjuru dunia Eropa.

Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Ketapang Malang, yang telah mendapatkan ijazah kemursyidan Thariqah Naqsyabandiyah-Khalwatiyah sewaktu di Mekkah. Di Mekkah itulah pertama kali beliau berjumpa dengan KH. A. Wahab Hasbullah dkk.

1. Kelahiran dan Pendidikan KH. Moh. Said

KH. Moh. Said lahir di Jl. Tongan Kodya Malang pada tahun 1901 dari pasangan H. Moh. Anwar dan Ny. Lis.

Pada masa penjajahan Belanda, Kyai Said termasuk beruntung. Karena pada usia 10 tahun, beliau dapat mengenyam pendidikan dan berhasil menamatkan pendidikan NIS tahun 1911. 5 tahun kemudian, tahun 1916, menamatkan ELS. Setamat dari ELS beliau bekerja menjadi Komis Pos di Jember  selama 9 tahun, 1916-1925.

Secara khusus, awalnya Kyai Said hanya nyantri di beberapa kyai di Malang, seperti ngaji pada Kyai Mukti Kasin, dan beberapa kyai lainnya. Selain itu, juga pernah nyantri ke Canga’an Bangil. Kemudian nyantri ke Pondok Pesantren Salafiyah Siwalan Panji Sidoarjo pada tahun 1926-1931, setahun setelah menikah.

2. Mendirikan PPAI Ketapang Kepanjen Malang

KH. Moh. Said pindah di Kabupaten Malang sejak tahun 1927. Sedangkan Pondok Pesantren PPAI Desa Sukoraharjo Dusun Ketapang Kepanjen Malang berdiri pada tanggal 28 Oktober 1948 oleh KH. Moh. Said. Pondok ini merupakan pemindahan pondok pesantren dari daerah Karangsari Bantur, Kabupaten Malang, yang juga didirikan oleh beliau pada tahun 1931.

Selanjutnya beliau mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren di Sonotengah, Pakisaji, Kabupaten Malang selama 16 tahun, 1931-1947. Tahun 1948 beliau mendirikan pesantren pindahan dari Sonotengah, di daerah Karangsari Bantur guna menyelamatkan santrinya dari penjajahan Belanda. Beliau berjuang mengusir penjajah Belanda serta menjadi penggerak tentara Hizbullah dari tahun 1945-1948.

Sebagaimana umumnya pesantren NU, pondok beliau juga bersistem pengajaran klasikal (Salafiyah). Unit pendidikan yang tersedia meliputi Sekolah Diniyah Putra-Putri Ibtida’iyah, Tsanawiyah dan Aliyah.

3. Anak Didik KH. Moh. Said

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jatsiyah ayat 18).

Ayat itulah yang selalu ditanamkan KH. Moh. Said kepada santrinya. Harapannya, agar santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Agama Islam (PPAI) Ketapang, Kepanjen, yang diasuhnya tidak model-model. “Kalau memang hanya bisa membaca al-Fatihah, ya ajarkan al-Fatihah itu,” ujarnya kala itu.

Prinsip Kyai Said: “Sebagai seorang pemimpin harus bisa mencetak atau mengkader santrinya menjadi pemimpin.” Karenanya, tak heran jika kemudian Kyai Said berhasil mengkader santrinya menjadi kyai, ustadz dan tokoh masyarakat, seperti:
1. KH. Abdul Hanan
2. KH. Alwi Murtadho (Pengasuh PPAI Al-Ihsan Blambangan Bululawang)
3. KH. Abdul Basyir
4. KH. Drs. Mahmud Zubaidi (Ketua MUI Kabupaten Malang dan Pengurus NU Cabang Kabupaten Malang)
5. Ustadz H. Ismail Qodly (guru agama di SLTP Shalahuddin)
6. Gus Mad Suyuti Dahlan (Pengasuh Ponpes Nurul Ulum Kacuk Sukun)
7. KH. Ahmad Su’aidi (Pengasuh PPAI Ketapang, menggantikan Kyai Moh. Said)
8. Dan puluhan kiai lainnya yang tersebar di Malang dan sekitarnya.

4. Perjuangan dan Pengabdian KH. Moh. Said

Sejak masa muda, beliau memang dikenal sebagai orang yang suka bekerja keras dan tekun belajar. Selain membantu orangtuanya, juga berdagang serta terkadang bertani.

Beliau menikah pada tahun 1925 dengan Siti Fatimah, seorang wanita dari Kidul Pasar Malang. Waktu itu, beliau masih berstatus sebagai pegawai di Kantor Gubernur di Surabaya tahun 1925-1927. Dalam pernikahan tersebut, Kiai Said tidak sampai dikarunia anak.

Bekerja menjadi pegawai pemerintah Belanda, ternyata tidak memuaskan hati beliau, hingga dia mengundurkan diri. Karenanya, setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren beliau mendirikan dan mengasuh Pondok Pesanntren Sono Tengah Pakisaji Malang, pada tahun 1931-1947. Pada tahun 1948, beliau mendirikan Pesantren Karangsari di Bantur. Setelah itu, sekitar tahun 1949 mendirikan Ponpes PPAI Ketapang, Kepanjen.

Di masa pendudukan penjajah Belanda, Kyai Said turut berjuang bersama masyarakat untuk mengusir penjajah. Bahkan beliau termasuk tokoh yang menggerakkan tentara Hizbullah pada tahun 1945-1948.

Di kalangan santri dan masyarakat, beliau dikenal sebagai ulama yang bijaksana. Beliau juga dekat dengan umara’ dan organisasi, tetap menampakkan pribadi yang alim, wara’ dan sufi. Selain itu, juga aktif di organisasi NU dan sempat menjadi Rois Syuriah NU Cabang Malang pada tahun 1950-1965. Bahkan, pernah ditunjuk menjadi Ketua Misi Ulama se Jatim ke Moskow (Rusia) dan Karachi (Pakistan) mewakili Partai NU wilayah Jawa Timur.

Menurut Gus Mad Suyuti Dahlan, Kyai Said itu sosok sufi yang berpendirian teguh, suka menyendiri dan menjauhi keramaian. Meski beliau lebih menekankan pada syariat (fiqih), tapi juga mengamalkan Thariqah Khalwatiyah dengan kitab susunannya Khulashah Dzikr al-‘Ammah wa al-Khasshah, yang didirikan Syaikh Khalwati. “Beliau itu hampir 27 tahun tidak pernah telat melaksanakan shalat berjamaah. Dan pelajaran itu, selalu ditekankan pada santri-santrinya,” ujar Almaghfurlah KH. Suyuti Dahlan (Pengasuh PP Nurul Ulum Kebon Sari Malang).

Demikian juga dalam bidang pendidikan, beliau sangat memperhatikan para generasi muda. Para santrinya diarahkan untuk menjadi penganjur agama Islam atau da’i, menjadi kader-kader dakwah yang memperjuangkan agama Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah serta menyebarluaskan ajaran pesantren yang sehaluan dengan PPAI Ketapang.

5. Pertemuan Dua Wali, KH. Abdul Hamid dan KH. Moh. Said

Pagi itu hampir beranjak siang, KH. Abdul Hamid (Mbah Hamid) Pasuruan sudah berada di depan Ndalem KH. Mohammad Said, Pengasuh PPAI Ketapang Kepanjen Malang, seraya mengucapkan: “Assalamu’alaikum...” sampai 3 kali, tapi tak ada jawaban.

Tak lama kemudian, muncul seorang santri datang dari bilik yang tak jauh dari Ndalem mendatangi Kyai Abdul Hamid yang berada di serambi Ndalem. “Romo Kyai Said wonten?” Kyai Said ada? Tanya Kyai Hamid.

“Romo Kyai Said kadose tindakan kolowau kaleh Bu Nyai. Ngapunten, saking pundi?” Kyai Said sepertinya tadi pergi bersama Bu Nyai. Maaf, Anda dari mana? Tanya santri tadi.

“Kulo Abdul Hamid saking Pasuruan”, saya Abdul Hamid dari Pasuruan.

Mendengar jawaban itu santri tadi langsung bingung tak tahu harus berbuat apa karena sekarang ia tahu bahwa yang di hadapannya bukan orang biasa, tetapi kyai panutan banyak orang. Melihat hal itu Kyai Hamid pun langsung berkata kepada santri tadi: “Menawi ngaten kulo tak ngrantosi Romo Kyai Said ten masjid mawon mpun nak geh”, kalau begitu sembari menunggu Kyai Said, saya di masjid dulu ya.

Akhirnya Kyai Hamid pun berjalan menuju masjid yang tak jauh dari Ndalem, kemudian shalat dua rakaat lalu rebahan tidur di depan mihrab masjid. Sedangkan santri tadi sambil bingung kembali ke bilik memberi tahu teman-temannya bahwa tamu tadi adalah Kyai Hamid dari Pasuruan yang alim dan wara’.

Selang hampir satu jam, melihat kondisi Kyai Hamid yang sedang tidur-tiduran di depan mihrab menunggu kedatangan Kyai Said, akhirnya santri tadi berinisiatif untuk mencari keluarga atau abdi ndalem agar bisa membukakan pintu Ndalem Kyai Said. Tujuannya supaya Kyai Hamid bisa menunggu di Ndalem saja.

Tak lama kemudian keluarlah Gus Kholidul Azhar, putra angkat Kyai Said, dari dalam Ndalem sambil kelihatan layu nampak habis bangun tidur. Maka tanpa basa-basi santri tadi langsung berkata kepada Gus Kholid: “Gus, wonten Kyai Hamid Pasuruan bade sowan dateng Romo Yai,” Gus ada Kyai Hamid Pasuruan ingin menghadap KH. Said.

“Iyo wis mari ketemu kok,” iya sudah ketemu kok, jawab Gus Kholid.

“Lho, kepanggih pripun tho Gus. Lha wong Kyai Hamid sak meniko tasik nenggo Romo Kyai Said kundur saking tindakan ten masjid ngantos sare wonten ngajenge mihrob”, Sudah ketemu bagaimana Gus, lha tadi Kyai Hamid masih menunggu Kyai Said yang sedang keluar di masjid depan mihrab kok.

“Lho, sopo sing ngomong Abah (Kyai Said) tindak? Wong iki maeng lho aku metu teko kamar (habis tidur) Abah karo Kyai Hamid isik temon-temonan ndek mbale (ruang tamu) omah”, kata siapa Abah sedang keluar? Baru saja aku keluar kamar, Abah bersama Kyai Hamid bertemu di ruang tamu.

“Lho, saestu Gus Romo Kyai Said tasik tindakan, kulo ningali piambak wau mios ipun. Pramilo Kyai Hamid nenggo Romo Kyai kundur sakniki ten masjid” beneran lho Gus, tadi Kyai Said sedang keluar. Saya lihat. Sedangkan Kyai Hamid menunggunya di masjid.

“Koen iki yokpo se, dikandani lek Abah karo Kyai Hamid isik temon-temonan ndek mbale kok gak percoyo?” Kamu ini bagaimana sih, diberi tahu Abah bersama Kyai Hamid masih bertatap muka di ruang tamu kok tidak percaya.

“Mosok nggeh Gus, saestu tah? Wong nembe mawon kulo tasik ningali Kyai Hamid wonten masjid, sare ten ngajenge mihrob. Lan kulo ningali Kyai tindakan lan dereng kondur.” Masak sih Gus, sungguh? Baru saja saya lihat Kyai Hamid masih di masjid, tiduran di depan mihrab. Dan saya lihat Kyai Said sedang keluar, belum pulang.

“Koen iki, dikandani kok gak percoyo.” Kamu itu diberi tahu kok tidak percaya. Timpal Gus Kholid.

Di tengah perdebatan antara santri tadi dengan Gus Kholid, tiba-tiba datang mobil Holden Kyai Said datang dan berhenti di depan Ndalem. Keluarlah dari dalam mobil tadi Kyai Said dan Ibu Nyai. Melihat pemandangan itu, Gus Kholid dan santri tadi menjadi bingung. “Lho Gus, niku lho Romo Kyai nembe kondur saking tindakan,” Lho Gus, itu Kyai Said baru saja pulang, tukas santri tadi.

“Lha terus, sing tak delok temon-temonan ndek mbale omah iki maeng sopo?” Lha terus yang barusan saya lihat sedang bercengkerama di ruang tamu itu siapa? Sela Gus Kholid.

“Lha geh duko Gus,” Ya tidak tahu, Gus, jawab santri tadi.

Di tengah kebingungan keduanya, maka Gus Kholid langsung menghampiri Kyai Said yang baru keluar dari mobil, seraya berkata: “Abah, wonten...”

Belum selesai berkata, Kyai Said langsung menjawab: “Kyai Hamid? Wis.. wis... Abah wis ketemu kok.” Kyai Hamid? Sudah, sudah saya temui kok. Sambil berjalan menuju Ndalem.

Maka makin bingunglah Gus Kholid dan santri tadi mendengar jawaban Kyai Said tersebut. Demi untuk menghilangkan kebingungannya, santri tadi langsung berlari ke masjid memastikan Kyai Hamid masih di depan mihrab. “Tapi kali ini ia tidak berhasil menemukan Kyai Hamid di sana, dicari ke mana-mana pun tidak ketemu.” Tutur KH. Achmad Muchtar Gz, santri KH. Moh. Said, mengakhiri kisahnya.

6. Kewafatan KH. Moh. Said

Pernah sewaktu sakitnya, beliau dikunjungi al-Quthb al-Habib Abdul Qadir Bilfaqih, Pengasuh Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyah, yang waktu itu diantarkan oleh Gus Suyuti Dahlan. Dalam pertemuan itu, Habib Abdul Qadir sempat menawarkan obat dari Jerman yang sangat istimewa dan mujarab kepada Kyai Said.

Namun, dengan segala kerendahan hati tawaran sang habib tersebut  ditolaknya. Lantas Kyai Said menceritakan, jika dirinya pernah bermimpi. Hatinya pecah menjadi dua. Pecahan itu kemudian menjadi tulisan dalam bahasa Arab, yang artinya: “Tidak ada obat untuk penyakit ini, kecuali dengan dzikrullah.”

“Kalau begitu, tidak usah saya beri obat Pak Kyai. Dzikir itu saja diteruskan,” tutur Gus Mad Suyuti menirukan perkataan Habib Abdul Qadir Bilfaqih kepada Kyai Said waktu itu.

KH. Moh. Said wafat pada tanggal 1 Desember tahun 1964 dalam usia 63 tahun. Jenazahnya dimakamkan di lingkungan Pesantren PPAI Ketapang Kepanjen Malang.

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 13 Agustus 2014

http://www.muslimedianews.com/2014/08/kyai-said-ketapang-kyai-nu-yang-mahir.html

http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/08/kh-moh-said-ketapang-kyai-yang-mahir.html

Read more

October 12, 2017

Jenderal Sudirman, Orang Muhammadiyah Yang Pakai Jimat



(Jenderal Sudirman BELUM PERNAH Ditangkap Penjajah Belanda & PKI Karena Pakai 'Jimat')
Pemerhati Komunisme, KH Muh Jazir mengungkapkan bahwa diantara para pejuang dan pahlawan nasional yang belum pernah ditangkap oleh penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI atau kelompok Komunis pada zaman revolusioner adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Bahkan beberapa kali para pettinggi penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI mengeluarkan keputusan dan mengerahkan pasukan untuk menangkap Jenderal Sudirman hingga terkepung, mereka tidak juga bisa menangkap Jenderal Sudirman.
Hal ini dikatakan KH Jazir saat menjadi pemateri dalam tabligh akbar “Mencerdaskan Umat dari Bahaya Komunis” di Masjid Jami’ Wedi Klaten pada Ahad (31/5/2015) malam.
Dengan fenomena tersebut, orang-orang yang memanggul Jenderal Sudirman, seperti Suparjo Rustam, Tjokro Pranolo sampai kaget dan terheran-heran. Sebab, pada saat itu Jenderal Sudirman sedang dalam kondisi sakit.
“Bahkan pada waktu Jenderal Sudirman dikepung oleh tentara Inggris di sekitar Jambu (Temanggung –red) dan Ambarawa (Magelang –red), di situ kan ada sebuah pegunungan dan Jenderal Sudirman beserta pasukannya ada di tengah-tengah, tapi nyatanya Jenderal Sudirman bisa lolos dari pengepungan,” ungkap KH Jazir.
Aktivis senior di Kota Yogyakarta (Jogja) ini menambahkan, hingga pada suatu saat, para pejuang yang setia mendampingi Jenderal Sudirman dan yang memanggung pria yang disebut oleh pasukannya dengan nama “Mas Kyai” itu bertanya, “jimat” apa yang dipakai oleh Jenderal Sudirman.
“Bahkan sampai herannya, Suparjo Roestam dan yang lainnya yang memanggul Jenderal Sudirman ini bertanya, "Sebenarnya jimat apa yang dipakai Mas Kyai ini sehingga selalu lolos dan tidak bisa ditangkap oleh Belanda dan PKI?"
Lalu dengan senyum kecil, Jenderal Sudirman menjawab, iya, saya memang pakai jimat,” ujarnya.
“Dan jimat saya yang pertama adalah, SAYA BERPERANG SELALU DALAM KONDISI BERWUDHU".
Jadi yang pertama Jenderal Sudirman itu selalu bersuci sebelum memulai peperangan. Makanya, kalau kita menyusuri jejak perjuangan dan pemberhentian pasukan Jenderal Sudirman, di situ kita akan mendapati adanya sebuah

PADASAN (semacam gentong atau tempat air yang terbuat dari tanah liat –red), dan padasan itu fungsinya adalah untuk berwudhu Jenderal Sudirman,” jelas KH Jazir.

“Kemudian yang kedua, jimatku adalah SELALU SHALAT DI AWAL WAKTU".
"Jadi dalam kondisi apapun, meskipun sedang pecah perang, Jenderal Sudirman tidak pernah meninggalkan sholat wajib diawal waktu,” imbuhnya.
Dan yang ketiga, jimatku adalah "AKU MENCINTAI RAKYATKU SEPENUH HATIKU".
"Bahkan jika Jenderal Sudirman membawa perbekalan makanan disaat perang, lalu singgah di suatu tempat, maka para pasukannya itu disuruh memberikan makanan itu kepada warga terlebih dahulu,” ucapnya.
Itulah 'jimat' Panglima Besar Jendral Sudirman. Tokoh yg tawadhu' (rendah hati), gigih & pantang menyerah dalam menjagan NKRI.
(1). Selalu dalam keadaan berwudhu, (2). Shalat di awal waktu dan (3). Mencintai rakyat tanpa pamrih sepenuh hati.
Maa Syaa Allah...

Semoga bermanfa'at..
Read more

Mbah Dalhar Dan Mbah Siroj Payaman, Wibawanya Dihormati Para Romo Katolik


Setelah lama menimba ilmu di Mekkah, Arab Saudi. KH Nahrowi Dalhar atau biasa dikenal dengan sebutan Mbah Dalhar menjadi magnet sowanan banyak orang, utamanya masyarakat sekitar Magelang. Ada diantaranya yang memohon kepada Mbah Dalhar agar berkenan menularkan ilmunya. Langsung dijawab oleh Mbah Dalhar bahwa sumber ilmu itu ada di Payaman, yakni KH Anwari Siroj.
Orang itu pun manut dengan ngendika Mbah Dalhar, sowan ke Payaman. Begitu disowani dan dimohon permohonan serupa Mbah Siroj juga menjawab bahwa sumber ilmu ada di Watucongol. "Bahkan ilmunya baru dientas dari Mekkah," ucap Mbah Siroj ta'dzim.
Padahal tiada yang mengingkari kealim Mbah Dalhar. Begitupun Mbah Siroj. Orang-orang mengakui bahwa beliau berdua adalah ulama yang alim allamah. Tapi memang seperti itulah gambaran tawadhu'nya para kiai jaman dulu.
Ada kisah unik tentang Mbah Siroj yang jarang diketahui. Pernah suatu waktu seorang romo Katolik bertanya kepada Gus Yusuf Chudlori Tegalrejo Magelang, "Gus, Payaman itu di Magelang mana?" Lalu dijawab oleh Gus Yusuf rute Payaman.
Dan romo Katolik itu bercerita dengan nada heran, "Aku masih penasaran Gus. Di lingkup para romo cerita ini melegenda. Dulu para romo Katolik Gereja Mertoyudan mewanti-wanti ada macan di Payaman. Saat mereka akan ke Mertoyudan naik kereta api, pasti turun dulu sebelum Payaman, lalu jalan kaki hingga melewati Payaman, baru naik kereta api kembali. Bukan saja tidak berani naik kereta, bahkan para romo itu menundukkan kepala tidak berani mengangkatnya. Kata para romo, Macane (harimau) Payaman itu Mbah Siroj," kisah Gus Yusuf Chudlori saat acara Halal Bihalal P4SK di Babakan Tegal, Ahad (16/7).
Mbah Siroj dikenal sebagai ulama besar dengan kedigdayaan ilmu karomahnya setelah menjalani pendidikan Islam di Kota Mekkah. Beliau berguru bersama Almarhum Mbah Dahlar yang merupakan pendiri sekaligus pimpinan Ponpes Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari pimpinan Pesantren Tebuireng, Jombang. 
(Syaroni As-Samfuriy) - NU Online
Read more

Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid


Bagaimana gerak derap langkah kaki Anda ketika melewati anak tangga masjid? Mungkin Anda akan melangkahkan salah satu kaki Anda ke anak tangga pertama. Kemudian disusul langkah kaki selanjutnya dengan posisi menginjak anak tangga kedua.
Hal itu lumrah dan umum dilakukan. Tetapi, berbeda dengan Kiai Turaihan Kudus. Kiai yang terkenal akan sifat ihtiyath, kehati-hatian dalam segala hal ini, sangat memperhatikan sekali langkah kakinya ketika memasuki area masjid. Di mana pun ia berada.
"Mbah Kiai Turaihan Kudus itu kalau melewati anak tangga masjid, ketika masuk, maka ia langkahkan kaki kanannya menuju anak tangga yang pertama, kemudian ia melangkahkan kaki kirinya dengan menyejajarkan kaki kiri di anak tangga yang pertama," tutur KH Muhammad Shofi Al-Mubarok, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan di sela sela pengajian kitab bersama para santri.
Ya, betapa kehati-hatian Kiai Turaihan Kudus tercermin dalam penuturan tersebut. Jadi ia tidak serta merta hanya mengawali langkah kakinya menapaki anak tangga dengan kaki kanan di awalnya saja. Melainkan dalam setiap derap kakinya meniti anak tangga itu, selalu dia awali dengan kaki kanan dan kemudian ia akhiri dengan menyejajarkan kaki kirinya di anak tangga yang telah dipijak kaki kanan.
Sang kiai begitu sabarnya meniti anak tangga satu per satu dengan kaki kanan sebagai awalan dan ditutup dengan kaki kiri. Begitu seterusnya hingga ia mencapai atas, puncak dari anak tangga tersebut.
Dan lebih hebatnya lagi, kiai asal kudus tersebut tidak hanya melakukan ritual tersebut saat memasuki masjid. Melainkan ia juga mengulangi cara tersebut ketika pulang dengan metode yang berkebalikan. Dalam artian, langkah pertama kaki kiri, kemudian turun ke anak tangga yang sama dengan menutupnya menggunakan kaki kanan. Subhanallah.
Betapa Kiai Turaihan begitu memiliki perhatian yang sangat mendalam. Hingga hal terkecil seperti melangkahkan kaki ke masjid pun, sangat ia perhatikan. Lalu, bagaimana dengan kita, meski kita tahu bahwa hal tersebut sunah. Sudahkah kita mengamalkannya? Wallahu a'lam. 
(Ulin Nuha Karim) - NU Online
Read more

5 Macam Pahala Shadaqah


Suatu hari ada seorang pengemis mengetuk pintu rumah Rasulullah Saw.
Pengemis itu berkata:

"Saya pengemis ingin meminta sedekah dari Rasulullah."


Rasulullah bersabda:
" Wahai Aisyah berikan baju itu kepada pengemis itu".


Sayyidah Aisyah pun akhirnya melaksanakan perintah Nabi.
Dengan hati yang sangat gembira, pengemis itu menerima pemberian beliau, dan langsung pergi ke pasar serta berseru di keramaian orang di pasar:
" Siapa yang mau membeli baju Rasulullah? ".
Maka dengan cepat berkumpullah orang-orang, dan semua ingin membelinya.
Ada seorang yang buta mendengar seruan tersebut, lalu menyuruh budaknya agar membelinya dengan harga berapapun yang diminta, dan ia berkata kepada budaknya:
Jika kamu berhasil mendapatkannya, maka kamu merdeka. Akhirnya budak itupun berhasil mendapatkannya.
Kemudian diserahkanlah baju itu pada tuannya yang buta tadi.
Alangkah gembiranya si buta tersebut, dengan memegang baju Rasulullah yang didapat, orang buta tersebut kemudian berdoa dan berkata:
" Yaa Rabb dengan hak Rasulullah dan berkat baju yang suci ini maka kembalikanlah pandanganku".
MaaSyaa Allah...dengan izin Allah, spontan orang tersebut dapat melihat kembali.
Keesokan harinya, iapun pergi menghadap Rasulullah dengan penuh gembira dan berkata:
" Wahai Rasulullah... pandanganku sudah kembali dan aku kembalikan baju anda sebagai hadiah dariku".
Sebelumnya orang itu menceritakan kejadiannya sehingga Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya.
Kemudian Rasulullah bersabda kepada Sayyidah Aisyah:
" Perhatikanlah baju itu wahai Aisyah, dengan berkahNya, ia telah mengkayakan orang yang miskin,
Menyembuhkan yang buta,
Memerdekakan budak dan kembali lagi kepada kita."
Subhanallah...


Al-Imam as-Suyuti menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa pahala shadaqah itu ada 5 macam:

أَنَّ ثَوَابَ الصَّدَقَةِ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : وَاحِدَةٌ بِعَشْرَةٍ وَهِيَ عَلَى صَحِيْحِ الْجِسْمِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِيْنَ وَهِيَ عَلَى الْأَعْمَى وَالْمُبْتَلَى ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةٍ وَهِيَ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ مُحْتَاجٍ ، وَوَاحِدَةٌ بِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى الْأَبَوَيْنِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى عَالِمٍ أَوْ فَقِيْهٍ اهـ
(كتاب بغية المسترشدين)

" Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima kategori :

1) Satu dibalas sepuluh (1:10) 
yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani.

2) Satu dibalas sembilan puluh (1:90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu.
3) Satu dibalas sembilan ratus (1:900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan.
4) Satu dibalas seratus ribu (1: 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orangtua.
5) Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang yg alim atau ahli fiqih.

[Kitab Bughyatul Musytarsyidin].
Read more

Kemanakah Perginya Air Bekas Memandikan Jasad Rasulullah SAW ??


Pada kisaran tahun 90-an, dalam sebuah Muktamar Tingkat Dunia yang diselenggarakan di Mesir, muncul pertanyaan dari Syeikh Mutawwali Asy-Sya'rawi tentang kemanakah perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam.

Semua peserta Muktamar yang merupakan para ulama perwakilan dari berbagai negara itu tak ada yang mampu menjawab.
Karena pertanyaan tersebut menarik dan belum pernah dibahas dalam sejarah Islam sebelumnya, maka sang pimpinan Muktamar meminta waktu untuk mencari jawaban tersebut.
Beliau berkata bahwa besok beliau akan menemukan jawabannya. Sepulangnya dari Muktamar, sang pimpinan langsung masuk ke perpustakaan dan membuka seluruh kitab yang ada guna mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.
Namun setelah semua kitab dibuka, tak ada satupun kalimat yang membahas pertanyaan tersebut.
Karena kelelahan, akhirnya beliau tertidur.
Saat tidur itulah beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam yang sedang bersama seorang pembawa lentera. Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, beliau menggunakan kesempatan tersebut untuk meminta jawaban yang dicarinya langsung kepada Rasulullah.
Rasulullah memberi isyarat agar beliau bertanya kepada pemegang lentera disampingnya. "Tanyalah kepada Shohibul Qindil (Lentera)."
Shohibul Qindil menjawab :
"Air tersebut naik ke langit dan turun kembali ke bumi bersama hujan. Setiap tanah yang dijatuhi air tersebut, maka di kemudian hari akan didirikan sebuah masjid."
Keesokan harinya, berdirilah sang pemimpin Muktamar untuk memberikan jawaban tentang perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah.
Semua yang hadir terkagum-kagum.
Syeikh Mutawwali yang mengajukan pertanyaan tersebut, bertanya lagi, "Darimana engkau mengetahuinya?"
Sang pimpinan Muktamar menjawab :
"Dari seseorang yang saat itu sedang bersama Rasulullah dalam mimpiku semalam."
Syeikh Mutawwali bertanya lagi :
"Apakah ia membawa Qindil?"
"Bagaimana engkau tahu?" Tanya balik sang pimpinan.
"Karena akulah Shohibul Qindil tersebut." Jawab Syeikh Mutawwali.
Kisah ini amat masyhur di kalangan ulama, terlebih di Mesir. Sekalipun banyak saksi mata yang menyaksikan langsung peristiwa ini, namun ulama-ulama dari kelompok Wahabi yang kala itu hadir juga, sedikitpun tidak mempercayai kisah ini, kecuali Syeikh Umar Abdul Kafi.
Beliau mengatakan bahwa dirinya telah banyak melihat berbagai karamah dalam diri Syeikh Mutawwali Asy-Sya'rawi, namun beliau enggan mengakuinya karena keyakinan yang dianutnya (faham Wahabi) menolak adanya karamah.
Tapi untuk kali ini, Allah telah menumbuhkan keyakinan dalam dadanya, sehingga beliau termasuk orang yang mempercayai kisah ini.
Beliau kemudian keluar dari Wahabi dan masuk ke dalam faham Ahlussunnah Wal Jama'ah
_______________________________________________
HIKAM SYA’RAWIYAH ( Hikmah - Hikmah Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi)
1 – إِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ قَوْلَ الْحَقِّ فَلَا تُصَفِّقْ لِلْبَاطِلِ
Jika engkau tidak mampu mengatakan kebenaran, maka janganlah bertepuk tangan untuk kebatilan.
2 – إِذَا لَمْ تَجِدْ لَكَ حَاقِدًا فَاعْلَمْ أَنَّكَ إِنْسَانٌ فَاشِلٌ
Jika engkau tidak menemukan seseorang yang mendengki-mu, maka ketahuilah bahwa engkau adalah manusia yang gagal.
3 – لَا تَقْلَقْ مِنْ تَدَابِيْرِ الْبَشَرِ فَأَقْصَى مَا يَسْتَطِيْعُوْنَ هُوَ تَنْفِيْذُ إِرَادَةِ اللهِ
Janganlah engkau merasa cemas terhadap “konspirasi” manusia, sebab, puncak dari kemampuan mereka adalah melaksanakan kehendak Allah SWT.
4 – لَنْ يَحْكُمَ أَحَدٌ فِيْ مُلْكِ اللهِ إِلَّا بِمُرَادِ اللهِ
Tidak akan ada seorangpun “berkuasa” di kerajaan Allah SWT kecuali dengan kehendak Allah SWT
5 – لَا تَعْبُدُوْا اللهَ لِيُعْطِيَ، بَلْ اُعْبُدُوْهُ لِيَرْضَى، فَإِنْ رَضِيَ أَدْهَشَكُمْ بِعَطَائِهِ
Janganlah engkau menyembah Allah SWT supaya Dia memberi kepadamu, namun, sembahlah Allah supaya Dia ridha kepadamu, maka, jika Dia ridha kepadamu, Dia akan membuatmu bingung dengan pemberian-Nya
6 – إِذَا رَأَيْتَ فَقِيْرًا فِيْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاعْلَمْ أَنَّ هُنَاكَ غَنِيًّا سَرَقَ مَالَهُ
Jika engkau melihat seorang fakir di negeri Islam, maka ketahuilah bahwa di sana ada orang kaya yang mencuri hartanya.
7 – لَا يَقْلَقُ مَنْ كَانَ لَهُ أَبٌ، فَكَيْفَ يَقْلَقُ مَنْ كَانَ لَهُ رَبٌّ
Tidak akan cemas seseorang yang mempunyai bapak, lalu, kenapa menjadi cemas seseorang yang mempunyai Tuhan (Allah SWT)
8 – إِذَا أَخَذَ اللهُ مِنْكَ مَا لَمْ تَتَوَقَّعْ ضَيَاعَهُ فَسَوْفَ يُعْطِيْكَ مَا لَمْ تَتَوَقَّعْ تَمَلًّكَهَ
Jika Allah SWT mengambil sesuatu darimu sesuatu yang kamu tidak pernah memprediksinya akan hilang darimu, maka itu berarti Allah SWT akan memberikan kepadamu sesuatu yang kamu tidak pernah memprediksi akan memilikinya
9 – كُنْ عَظِيْمًا وَدُوْدًا قَبْلَ أَنْ تَكُوْنَ عِظَامًا وَدُوْدًا
Jadilah orang besar yang penuh rasa cinta, sebelum menjadi tulang belulang dan belatung
10 – إِذَا رَاعَيْتَ مَعْرُوْفَ غَيْرِكَ، فَاعْلَمْ أَنَّكَ لِلْوَفَاءِ خَلِيْلُ
Jika engkau memperhatikan jasa baik orang lain kepadamu, ketahuilah bahwa engkau adalah bersahabat dengan kesetiaan..
Mari kita hadiahkan al fatihah untuk beliau... Semoga kita mendapatkan berkahnya... al-faatihah...
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين
Read more

Nasehat Gus Dur



Kalau ngaji Qur'an itu yg sungguh2. Sebab Qur'an itu kalau gak syafaat ya laknat. Pilihannya ya cuma dua itu.
Qur'an itu hurufnya ada 4 : 
"ق ر أ ن"

Pertama Qaf
Sifatnya qalqalah, artinya guncang.
Setiap orang yg menempuh jalan untuk menjadi ahlul Quran akan di uji Gusti Allah dg cobaan2 yg menggonjang ganjingkan hidupnya nduk.

Kedua Ro'
Sifatnya takrir, artinya mengulang2.
Meskipun cobaan yg mendera jalanmu kelak akan mengguncang hidupmu, sekali kali jangan kau pernah berhenti nduk ,karena Quran itu harus selalu dibaca berulang2 meskipun sudah khatam. DERES! Kalau tidak, SERED!

Ketiga Hamzah
Sifatnya syiddah berarti kuat.
Maksudnya, kamu harus benar-benar kuat menjaga Quranmu dg membaca dan membacanya lagi dan lagi meskipun hidupmu digonjang ganjingkan masalah yg tak sudah sudah. Sapa ngrumat keramut, sapa ngremeh keremet nduk.

Dan yg terakhir Nun
Sifatnya idzlaq, artinya ringan.
InsyaAllah nduk, kalau kamu kuat dan Sabar atas sgala coba yg mengguncang jiwa raga, sembari mengistiqomahkan ngajimu dg terus menerus nderes Quran mu, hidup matimu akan ringan nduk, seringan mulutmu saat mengucapkan nun.
Read more